Pages

السبت، 2 مارس 2013

Revolusi Yaman



REVOLUSI ISLAM DI YAMAN

Revolusi Islam yang terjadi di Yaman tidak terlepas dari pengaruh gelombang tsunami revolusi Islam yang melanda Timur Tenga. Pasca Revolusi di Tunisia yang mendorong revolusi lainnya termasuk di Yaman, ribuan penduduk telah berdemonstrasi di ibukota Yaman, San’a, menuntut turunnya pemerintah diktaktor kejam, Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih.
Seiring dengan revolusi rakyat yang menuntut sang diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di provinsi Abyan, telah berjuang untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan Imarah Islam (Negara Islam) di negara tersebut. Pada hari Sabtu, tanggal 28 Mei 2011, AQAP yang berbasis di Yaman telah mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam di Yaman, dengan propinsi Abyan sebagai ibukotanya.[1]
Sementara itu, ribuan anggota suku Yaman telah mengancam akan membanjiri ibukota Yaman, Sana’a untuk bergabung dalam pertempuran melawan pasukan yang setia kepada rejim presiden Saleh. Mereka memperingatkan pemerintah bahwa jika pemerintah lebih berjuang habis-habisan untuk mempertahankan kekuasaan, mereka akan bergabung dengan suku lain yang telah berjuang melawan pasukan Saleh.[2]
Revolusi Islam di Yaman memasuki babak baru yang menentukan. Pasca serangan roket mematikan yang menghantam masjid di komplek Istana Presiden Yaman di San'a, Jum'at (3/06/2011), Presiden Ali Abdullah Saleh dikabarkan meninggalkan Yaman menuju Riyadh, Saudi, untuk mengobati kepalanya yang terluka.
Sejumlah pejabat tinggi cedera dan tujuh pengawal Presiden yang sedang sholat Jum'at tewas akibat serangan tersebut. Sementara itu, Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berbasis di Yaman telah mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam (Negara Islam) di Yaman, dengan propinsi Abyan sebagai ibukotanya pada hari Sabtu (28/05/2011).[3]
Saat ini, AQAP sedang mempersiapkan 12.000 pejuang di Aden dan Abyan untuk memerangi petugas keamanan Yaman dan agen intelijen secara total dan menyeluruh. Pasukan yang dibentuk juga dimaksudkan untuk persiapan pendirian Kekhalifahan Islam. Apakah 12.000 pasukan dari Aden dan Abyan ini menjadi tanda sudah terealisirnya nubuwah (kabar kenabian) dan akan segera terjadinya Al Malhamah Al Kubro (Perang Besar) hingga berujung pada pembebasan Al Aqsha.[4]
Kemenangan yang dijanjikan
Revolusi Islam di Yaman yang terjadi sejak empat bulan lalu tidak terlepas dari pengaruh gelombang tsunami Revolusi Islam yang melanda Timur Tengah dan sekitarnya. Pasca Revolusi di Tunisa yang menyulut Revolusi lainnya termasuk di Yaman, ribuan penduduk telah berdemonstrasi di ibukota Yaman, San'a, menuntut turunnya sang diktaktor bengis, Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih.
Bersamaan dengan revolusi rakyat yang menuntut sang diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di provinsi Abyan, telah berjuang untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan Imarah Islam (Negara Islam) di negara tersebut. Bersamaan dengan revolusi rakyat yang menuntut sang diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di provinsi Abyan, telah berjuang untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan Imarah Islam (Negara Islam) di negara tersebut.[5]
AQAP berkali-kali terlibat pertempuran dengan pasukan militer pemerintahan Yaman yang dibantu Amerika. Yaman, sebuah negara yang dalam sejarahnya memiliki kontribusi besar dalam perjalanan dan perkembangan Islam, sayangnya pasca serangan 11 September 2011 masuk ke camp kufur pimpinan AS dan sekutunya. Disuntik dana 70 miliar dollar oleh AS, pemerintahan Yaman di bawah Ali Abdullah Saleh mulai melancarkan perang melawan Islam dan kaum Muslimin di Yaman, dengan dalilh perang melawan terorisme.
Sejak tahun 2005, Yaman telah mengusir 16.000 orang yang dicurigai sebagai anggota Al Qaeda. Amerika pun semakin giat menggelontorkan dana untuk membunuhi para mujahidin AQAP dan menentang geliat penegakan syariat Islam di Yaman. Maka bantuan sebesar 150 juta USD pun segera digelontorkan agar pasukan militer Yaman dapat segera membumi hanguskan mujahidin AQAP. Bukannya surut, jihad di Yaman semakin berkobar dan meluas yang keseluruhannya digelorakan oleh para mujahidin AQAP.[6]
Dalam sebuah kesempatan, lewat pesan rekaman audio, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, mengeluarkan seruan revolusi total untuk melawan penguasa dunia Arab, termasuk Yaman tentunya. AQAP juga menyerukan agar umat Islam segera mendirikan pemerintahan yang berdasarkan hukum Islam.
Rekaman seruan revolusi dari AQAP tersebut muncul merespon gelombang tsunami revolusi Islam yang tengah menyapu Timur Tengah, setelah berhasil menggulingkan rezim Tunisia, Mesir, Libya, dan kini Yaman.
Dalam rekaman audio tersebut yang berbicara adalah Syekh Ibrahim al-Rubeish, mantan tahanan Guantanamo dan kini bergabung dengan mujahidin AQAP. Dalam rekaman sepanjang 10 menit itu, Syekh Al Rubeish mengkritik Arab Saudi yang menyediakan surga bagi presiden Tunisia yang digulingkan, Ben Ali. Beliau juga berpesan, bahwa menumbangkan penguasa lama saja tidak cukup dalam sebuah revolusi Islam, akan tetapi perlu didirikan pemerintahan baru berdasarkan hukum Islam atau syariat.
"Satu tiran pergi, hanya untuk diganti yang lain yang dapat mengatasi masalah duniawi mereka dengan menawarkan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan mereka, namun masalah yang lebih besar sebenarnya tetap ada," ujar beliau, merujuk pada pemimpin yang menggantikan tiran namun tidak menerapkan syariah Islam.[7]
Sementara itu, ribuan anggota suku Yaman telah mengancam akan membanjiri ibukota Yaman, Sana'a untuk bergabung dalam pertempuran melawan pasukan yang setia kepada rezim presiden Saleh. Mereka memperingatkan pemerintah bahwa jika pemerintah lebih berjuang habis-habisan untuk mempertahankan kekuasaan, mereka akan bergabung dengan suku yang lain yang telah berjuang dengan kekuatan melawan pasukan rezim Saleh dalam dua minggu terakhir.[8]
Diktaktor Ali Abdullah Saleh sendiri telah menolak menandatangani kesepakatan yang diajukan negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (PGCC) selama tiga kali meskipun partainya sendiri dan para anggota oposisi telah menandatanganinya.
PGCC menjadi penengah dalam kesepakatan pada tanggal 23 Mei dan menyeru presiden Saleh menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden Yaman dalam waktu 30 hari setelah penandatanganan perjanjian dalam pertukaran untuk kekebalan dari tuntutan oleh parlemen.[9]
Dalam sebuah video yang dirilis oleh Global Islamic Media Front (GIMF) yang diproduksi oleh Al Malahim, berjudul "From Here We Begin...and at Al Aqsha We Meet" (Min Huna Nabda wa fie Al Aqsha Naltaqiy) amir (pimpinan) dan para komandan Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman menyerukan seruan jihad dan rencana untuk mengirimkan 12.000 pasukan dari Aden dan Abyan.
Berbicara pertama kali dalam video tersebut adalah Syekh Abu Sufyan Al Azdi Saeed Al Shihri sebagai Deputy Comannder AQAP yang juga mantan tahanan Guantanamo bernomer # 372. Dalam seruannya beliau bersumpah akan membalaskan darah mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab, seperti Syekh Abdul Aziz Al Muqrin yang dibantai secara keji oleh aparat Saudi. Dalam kesempatan tersebut beliau juga berjanji akan menegakkan Daulah Islam, Khilafah Islam, dan menerapkan hukum-hukum Allah SWT. Beliau menyebut Yaman sebagai tanah jihad dan tempat dimana akan dideklarasikannya negara Islam. Beliau juga menyinggung akan membebaskan Al Aqsha dari cengkraman zionis yahudi Israel.
Berbicara di kesempatan kedua adalah amir (pimpinan) AQAP, Syekh Abu Baseer Nasir Al Wuhaishi. Beliau menyampaikan kabar gembira kepada seluruh kaum Muslimin dimanapun berada bahwa mereka, Mujahidin AQAP sebentar lagi akan menegakkan negara Islam di Yaman. Negara Islam di Yaman pun, menurut beliau adalah cikal bakal dari Khilafah Islam yang nantinya akan memerangi seluruh musuh Islam. Beliau juga menyerukan akan segera datangnya pasukan mujahidin untuk membebaskan Al Aqsha. Kami bersumpah akan melakukan hal itu kepada saudara muslim kami di Palestina, sebagaimana sumpah Syekh Usamah bin Laden, sumpah Syekh Abu Mushab Az Zarqawy, dan lainnya.
Pembicara ketiga dalam kaset tersebut adalah Syekh Abu Hurairah Qasim Al Rimi, selaku Military Comannder AQAP. Beliau juga bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa mereka akan datang dengan bendera jihad ke Palestina untuk membebaskan Al Aqsha. Beliau juga menyinggung Hasan Nasrullah, pimpinan Hizbullah Libanon yang pro Syiah, yang dikatakan memiliki sekitar 20.000 misil yang bisa ditembakkan ke Tel Aviv, ibukota Israel. Lalu, mengapa tidak ada satupun misil yang kalian tembakkan ke Israel? Bukankah itu artinya kalian sama saja dengan Mesir yang membuat blokade dengan menutup Rafah ke Gaza, dan kalian membuat blokade antara Libanon dengan Palestin.
Pembicara terakhir dalam video tersebut adalah Syekh Abu Harith Muhammad Al Awfi yang bertindak sebagai Field Comannder AQAP dan juga mantan tahanan Guantanamo bernomer # 333.  Beliau lebih menyerukan kepada para tiran di Saudi Arabia bahwa mereka akan datang ke negeri Haramain (Mekkah dan Madinah) dan membalas apa yang telah mereka lakukan kepada mujahidin di sana, seperti kepada Syekh Yusuf Al Uyairi. Di bagian akhir, beliau juga berjanji akan membebaskan Al Aqsha dan seluruh jazirah Arab.[10]
Menuju Khilafah Islam & pengiriman 12.000 pasukan untuk pembebasan      Al Aqsha
Di tengah gelombang revolusi Islam yang masih berkecamuk di Yaman, kebuntuan politik dan melemahnya kekuasaan rezim diktaktor Ali Abdullah Saleh, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) akhirnya, dengan idzin Allah, mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam di Yaman.
Peristiwa bersejarah bagi ummat Islam tersebut terjadi pada hari Sabtu (28/5/2011). AQAP mendeklarasikan Imarah Islam di Yaman, khususnya Yaman Selatan, dengan ibukota propinsi Abyan.
Deklarasi Imarah Islam di Yaman ini dilakukan AQAP setelah berhasil mengambil alih hampir seluruh bagian dari provinsi Abyan setelah merebut ibukota, Zinjibar pada Jumat (27/5). Dalam kesempatan itu pula, AQAP juga mempersiapkan untuk membentuk tentara dari 12.000 pejuang dari Aden dan Abyan untuk memerangi petugas keamanan Yaman dan agen intelijen di sana.
Syekh Mohamed Saied al-Omda, komandan lapangan AQAP mengatakan: "Kami punya kabar baik bagi bangsa Islam, bahwa tentara dari 12.000 pejuang saat ini sedang dipersiapkan di Aden dan Abyan. Dengan pasukan ini, kita akan mendirikan sebuah kekhalifahan Islam. Ini adalah pesan untuk petugas keamanan pemerintah Yaman dan keamanan Layanan Nasional. Pedang kami siap dan kami memutuskan untuk membersihkan bumi ini," ujar beliau.
Mendengar deklarasi Imarah Islam Yaman tersebut, pemerintah Yaman segera mengirim pesawat tempur dan membombardir posisi Mujahidin Al Qaeda di kota Zinjibar. Penduduk, Ali Dahmas mengatakan ia melihat jet tempur melepaskan tembakan di pinggiran selatan kota itu dan mendengar ledakan keras yang kemudian disusul dengan asap tebal ke udara.
Selain Yaman, Amerika sendiri sangat khawatir dengan deklarasi AQAP tersebut. Amerika masih berusaha untuk melobi sekutunya dari Eropa dan negara-negara Teluk untuk menekan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, agar segera menandatangani kesepakatan untuk menyerahkan kekuasaan.
"Kami sangat cemas bahwa situasi yang tidak stabil di Yaman akan membawa permusuhan antarsuku yang berkepanjangan, yang mempersulit kami dalam menjalani proses kesepakatan untuk mentransfer kekuasaan," ungkap sumber keamanan AS.
Para analis Barat dan Zionis membunyikan alarm bahwa pembebasan Zinjibar oleh Mujahidin AQAP memberi mereka kesempatan nyata untuk mencapai kekuasaan di "wilayah tidak stabil" dan mendirikan pemerintahan Islam. Sebuah koran Zionis, The Jerusalem Post, menulis:
"Laporan pengambilalihan terhadap kota Yaman selatan Zinjibar oleh pasukan bersenjata yang setia kepada Al Qaeda adalah pengingat yang mengganggu dari kesempatan mendirikan negara untuk mewakili gerakan jihad global".
Jerusalem Post mengatakan bahwa tujuan Al Qaeda adalah untuk mendapatkan kedaulatan, dan untuk membentuk negara Islam, kekhalifahan, yang akan menyingkirkan semua rezim boneka Arab dan Asia Muslim.

[1] http://m.arrahmah.com/read/2011/12/31/17129-refleksi-akhir-tahun-2011-7-peristiwa-fenomena- penting-versi-arrahmah-com.html
[3] http://arrahmah.com/read/2011/06/06/13157-revolusi-islam-di-yaman-penegakan-khilafah-pembebasan-al-aqsha.html# 
[4] http://islamwillneverdie.blogspot.com/2011_08_21_archive.html
[5] http://m.arrahmah.com/read/2011/12/31/17129-refleksi-akhir-tahun-2011-7-peristiwa-fenomena- penting-versi-arrahmah-com.html

[6] http://m.arrahmah.com/read/2011/12/31/17129-refleksi-akhir-tahun-2011-7-peristiwa-fenomena- penting-versi-arrahmah-com.html
[7] penulis-bulukumba.blogspot.com/2011/08/revolusi-islam-di-yaman-penegakan_09.html
[9] penulis-bulukumba.blogspot.com/2011/08/revolusi-islam-di-yaman-penegakan_09.html
[10] http://arrahmah.com/read/2011/06/06/13157-revolusi-islam-di-yaman-penegakan-khilafah-pembebasan-al-aqsha.html#

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق