REVOLUSI ISLAM DI YAMAN
Revolusi Islam yang terjadi di Yaman tidak
terlepas dari pengaruh gelombang tsunami revolusi Islam yang melanda Timur
Tenga. Pasca Revolusi di Tunisia yang mendorong revolusi lainnya termasuk di
Yaman, ribuan penduduk telah berdemonstrasi di ibukota Yaman, San’a, menuntut
turunnya pemerintah diktaktor kejam, Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama
30 tahun lebih.
Seiring dengan revolusi rakyat yang menuntut sang
diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di
Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di provinsi Abyan, telah berjuang
untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan Imarah Islam (Negara Islam) di
negara tersebut. Pada hari Sabtu, tanggal 28 Mei 2011, AQAP yang berbasis di
Yaman telah mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam di Yaman, dengan propinsi
Abyan sebagai ibukotanya.[1]
Sementara itu, ribuan
anggota suku Yaman telah mengancam akan membanjiri ibukota Yaman, Sana’a untuk
bergabung dalam pertempuran melawan pasukan yang setia kepada rejim presiden
Saleh. Mereka memperingatkan pemerintah bahwa jika pemerintah lebih berjuang
habis-habisan untuk mempertahankan kekuasaan, mereka akan bergabung dengan suku
lain yang telah berjuang melawan pasukan Saleh.[2]
Revolusi Islam di Yaman memasuki babak baru
yang menentukan. Pasca serangan roket mematikan yang menghantam masjid di
komplek Istana Presiden Yaman di San'a, Jum'at (3/06/2011), Presiden Ali
Abdullah Saleh dikabarkan meninggalkan Yaman menuju Riyadh, Saudi, untuk
mengobati kepalanya yang terluka.
Sejumlah pejabat tinggi cedera dan tujuh
pengawal Presiden yang sedang sholat Jum'at tewas akibat serangan tersebut.
Sementara itu, Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berbasis di Yaman telah
mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam (Negara Islam) di Yaman, dengan
propinsi Abyan sebagai ibukotanya pada hari Sabtu (28/05/2011).[3]
Saat ini, AQAP sedang mempersiapkan 12.000
pejuang di Aden dan Abyan untuk memerangi petugas keamanan Yaman dan agen
intelijen secara total dan menyeluruh. Pasukan yang dibentuk juga dimaksudkan
untuk persiapan pendirian Kekhalifahan Islam. Apakah 12.000 pasukan dari Aden
dan Abyan ini menjadi tanda sudah terealisirnya nubuwah (kabar kenabian) dan akan segera terjadinya Al
Malhamah Al Kubro (Perang Besar) hingga berujung pada pembebasan Al Aqsha.[4]
Kemenangan yang dijanjikan
Revolusi Islam di Yaman yang terjadi sejak
empat bulan lalu tidak terlepas dari pengaruh gelombang tsunami Revolusi Islam
yang melanda Timur Tengah dan sekitarnya. Pasca Revolusi di Tunisa yang
menyulut Revolusi lainnya termasuk di Yaman, ribuan penduduk telah
berdemonstrasi di ibukota Yaman, San'a, menuntut turunnya sang diktaktor
bengis, Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa selama 30 tahun lebih.
Bersamaan dengan revolusi
rakyat yang menuntut sang diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah
Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di
provinsi Abyan, telah berjuang untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan
Imarah Islam (Negara Islam) di negara tersebut. Bersamaan dengan revolusi
rakyat yang menuntut sang diktaktor Yaman mundur, mujahidin Al Qaeda Jazirah
Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman, khususnya di Yaman Selatan, yakni di
provinsi Abyan, telah berjuang untuk menegakkan syariat Islam dan mendirikan
Imarah Islam (Negara Islam) di negara tersebut.[5]
AQAP berkali-kali terlibat pertempuran dengan
pasukan militer pemerintahan Yaman yang dibantu Amerika. Yaman, sebuah negara
yang dalam sejarahnya memiliki kontribusi besar dalam perjalanan dan
perkembangan Islam, sayangnya pasca serangan 11 September 2011 masuk ke camp
kufur pimpinan AS dan sekutunya. Disuntik dana 70 miliar dollar oleh AS,
pemerintahan Yaman di bawah Ali Abdullah Saleh mulai melancarkan perang melawan
Islam dan kaum Muslimin di Yaman, dengan dalilh perang melawan terorisme.
Sejak tahun 2005, Yaman telah mengusir 16.000
orang yang dicurigai sebagai anggota Al Qaeda. Amerika pun semakin giat
menggelontorkan dana untuk membunuhi para mujahidin AQAP dan menentang geliat
penegakan syariat Islam di Yaman. Maka bantuan sebesar 150 juta USD pun segera
digelontorkan agar pasukan militer Yaman dapat segera membumi hanguskan
mujahidin AQAP. Bukannya surut, jihad di Yaman semakin berkobar dan meluas yang
keseluruhannya digelorakan oleh para mujahidin AQAP.[6]
Dalam sebuah kesempatan, lewat pesan rekaman
audio, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang berpusat di Yaman,
mengeluarkan seruan revolusi total untuk melawan penguasa dunia Arab, termasuk
Yaman tentunya. AQAP juga menyerukan agar umat Islam segera mendirikan
pemerintahan yang berdasarkan hukum Islam.
Rekaman seruan revolusi dari AQAP tersebut
muncul merespon gelombang tsunami revolusi Islam yang tengah menyapu Timur
Tengah, setelah berhasil menggulingkan rezim Tunisia, Mesir, Libya, dan kini
Yaman.
Dalam rekaman audio tersebut yang berbicara
adalah Syekh Ibrahim al-Rubeish, mantan tahanan Guantanamo dan kini bergabung
dengan mujahidin AQAP. Dalam rekaman sepanjang 10 menit itu, Syekh Al Rubeish
mengkritik Arab Saudi yang menyediakan surga bagi presiden Tunisia yang
digulingkan, Ben Ali. Beliau juga berpesan, bahwa menumbangkan penguasa lama
saja tidak cukup dalam sebuah revolusi Islam, akan tetapi perlu didirikan
pemerintahan baru berdasarkan hukum Islam atau syariat.
"Satu tiran pergi,
hanya untuk diganti yang lain yang dapat mengatasi masalah duniawi mereka
dengan menawarkan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan mereka, namun
masalah yang lebih besar sebenarnya tetap ada," ujar beliau, merujuk pada
pemimpin yang menggantikan tiran namun tidak menerapkan syariah Islam.[7]
Sementara itu, ribuan
anggota suku Yaman telah mengancam akan membanjiri ibukota Yaman, Sana'a untuk
bergabung dalam pertempuran melawan pasukan yang setia kepada rezim presiden
Saleh. Mereka memperingatkan pemerintah bahwa jika pemerintah lebih berjuang
habis-habisan untuk mempertahankan kekuasaan, mereka akan bergabung dengan suku
yang lain yang telah berjuang dengan kekuatan melawan pasukan rezim Saleh dalam
dua minggu terakhir.[8]
Diktaktor Ali Abdullah Saleh
sendiri telah menolak menandatangani kesepakatan yang diajukan negara anggota
Dewan Kerjasama Teluk (PGCC) selama tiga kali meskipun partainya sendiri dan
para anggota oposisi telah menandatanganinya.
PGCC menjadi penengah
dalam kesepakatan pada tanggal 23 Mei dan menyeru presiden Saleh menyerahkan
kekuasaan kepada wakil presiden Yaman dalam waktu 30 hari setelah
penandatanganan perjanjian dalam pertukaran untuk kekebalan dari tuntutan oleh
parlemen.[9]
Dalam sebuah video yang dirilis oleh Global
Islamic Media Front (GIMF) yang diproduksi oleh Al Malahim, berjudul "From
Here We Begin...and at Al Aqsha We Meet" (Min Huna Nabda wa fie Al Aqsha
Naltaqiy) amir (pimpinan) dan para komandan Al Qaeda Jazirah Arab (AQAP) yang
berpusat di Yaman menyerukan seruan jihad dan rencana untuk mengirimkan 12.000
pasukan dari Aden dan Abyan.
Berbicara pertama kali dalam video tersebut
adalah Syekh Abu Sufyan Al Azdi Saeed Al Shihri sebagai Deputy Comannder AQAP
yang juga mantan tahanan Guantanamo bernomer # 372. Dalam seruannya beliau
bersumpah akan membalaskan darah mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab, seperti Syekh
Abdul Aziz Al Muqrin yang dibantai secara keji oleh aparat Saudi. Dalam kesempatan tersebut beliau juga berjanji
akan menegakkan Daulah Islam, Khilafah Islam, dan menerapkan hukum-hukum Allah
SWT. Beliau menyebut Yaman sebagai tanah jihad dan tempat dimana akan
dideklarasikannya negara Islam. Beliau juga menyinggung akan membebaskan Al
Aqsha dari cengkraman zionis yahudi Israel.
Berbicara di kesempatan kedua adalah amir
(pimpinan) AQAP, Syekh Abu Baseer Nasir Al Wuhaishi. Beliau menyampaikan kabar
gembira kepada seluruh kaum Muslimin dimanapun berada bahwa mereka, Mujahidin
AQAP sebentar lagi akan menegakkan negara Islam di Yaman. Negara Islam di Yaman
pun, menurut beliau adalah cikal bakal dari Khilafah Islam yang nantinya akan
memerangi seluruh musuh Islam. Beliau
juga menyerukan akan segera datangnya pasukan mujahidin untuk membebaskan Al
Aqsha. Kami bersumpah akan melakukan hal itu kepada saudara muslim kami di Palestina,
sebagaimana sumpah Syekh Usamah bin Laden, sumpah Syekh Abu Mushab Az Zarqawy,
dan lainnya.
Pembicara ketiga dalam kaset tersebut adalah
Syekh Abu Hurairah Qasim Al Rimi, selaku Military Comannder AQAP. Beliau
juga bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa mereka akan datang dengan
bendera jihad ke Palestina untuk membebaskan Al Aqsha. Beliau juga menyinggung
Hasan Nasrullah, pimpinan Hizbullah Libanon yang pro Syiah, yang dikatakan
memiliki sekitar 20.000 misil yang bisa ditembakkan ke Tel Aviv, ibukota
Israel. Lalu, mengapa tidak ada satupun misil yang
kalian tembakkan ke Israel? Bukankah itu artinya kalian sama saja dengan Mesir
yang membuat blokade dengan menutup Rafah ke Gaza, dan kalian membuat blokade
antara Libanon dengan Palestin.
Pembicara terakhir dalam video tersebut adalah
Syekh Abu Harith Muhammad Al Awfi yang bertindak sebagai Field Comannder AQAP
dan juga mantan tahanan Guantanamo bernomer # 333. Beliau lebih
menyerukan kepada para tiran di Saudi Arabia bahwa mereka akan datang ke negeri
Haramain (Mekkah dan Madinah) dan membalas apa yang telah mereka lakukan kepada
mujahidin di sana, seperti kepada Syekh Yusuf Al Uyairi. Di bagian akhir,
beliau juga berjanji akan membebaskan Al Aqsha dan seluruh jazirah Arab.[10]
Menuju Khilafah Islam & pengiriman 12.000
pasukan untuk pembebasan Al Aqsha
Di tengah gelombang
revolusi Islam yang masih berkecamuk di Yaman, kebuntuan politik dan melemahnya
kekuasaan rezim diktaktor Ali Abdullah Saleh, mujahidin Al Qaeda Jazirah Arab
(AQAP) akhirnya, dengan idzin Allah, mendeklarasikan berdirinya Imarah Islam di
Yaman.
Peristiwa bersejarah bagi ummat Islam tersebut
terjadi pada hari Sabtu (28/5/2011). AQAP mendeklarasikan Imarah Islam di
Yaman, khususnya Yaman Selatan, dengan ibukota propinsi Abyan.
Deklarasi Imarah Islam di Yaman ini dilakukan
AQAP setelah berhasil mengambil alih hampir seluruh bagian dari provinsi Abyan
setelah merebut ibukota, Zinjibar pada Jumat (27/5). Dalam kesempatan itu pula,
AQAP juga mempersiapkan untuk membentuk tentara dari 12.000 pejuang dari Aden
dan Abyan untuk memerangi petugas keamanan Yaman dan agen intelijen di sana.
Syekh Mohamed Saied
al-Omda, komandan lapangan AQAP mengatakan: "Kami punya kabar baik bagi
bangsa Islam, bahwa tentara dari 12.000 pejuang saat ini sedang dipersiapkan di
Aden dan Abyan. Dengan pasukan ini, kita akan mendirikan sebuah
kekhalifahan Islam. Ini adalah pesan untuk petugas keamanan pemerintah Yaman
dan keamanan Layanan Nasional. Pedang kami siap dan kami memutuskan untuk
membersihkan bumi ini," ujar beliau.
Mendengar deklarasi Imarah Islam Yaman
tersebut, pemerintah Yaman segera mengirim pesawat tempur dan membombardir
posisi Mujahidin Al Qaeda di kota Zinjibar. Penduduk, Ali Dahmas mengatakan ia
melihat jet tempur melepaskan tembakan di pinggiran selatan kota itu dan
mendengar ledakan keras yang kemudian disusul dengan asap tebal ke udara.
Selain Yaman, Amerika sendiri sangat khawatir
dengan deklarasi AQAP tersebut. Amerika masih berusaha untuk melobi sekutunya
dari Eropa dan negara-negara Teluk untuk menekan presiden Yaman, Ali Abdullah
Saleh, agar segera menandatangani kesepakatan untuk menyerahkan kekuasaan.
"Kami sangat cemas bahwa situasi yang
tidak stabil di Yaman akan membawa permusuhan antarsuku yang berkepanjangan,
yang mempersulit kami dalam menjalani proses kesepakatan untuk mentransfer
kekuasaan," ungkap sumber keamanan AS.
Para analis Barat dan
Zionis membunyikan alarm bahwa pembebasan Zinjibar oleh Mujahidin AQAP memberi
mereka kesempatan nyata untuk mencapai kekuasaan di "wilayah tidak
stabil" dan mendirikan pemerintahan Islam. Sebuah koran Zionis, The
Jerusalem Post, menulis:
"Laporan
pengambilalihan terhadap kota Yaman selatan Zinjibar oleh pasukan bersenjata
yang setia kepada Al Qaeda adalah pengingat yang mengganggu dari kesempatan
mendirikan negara untuk mewakili gerakan jihad global".
Jerusalem Post mengatakan bahwa tujuan Al Qaeda
adalah untuk mendapatkan kedaulatan, dan untuk membentuk negara Islam,
kekhalifahan, yang akan menyingkirkan semua rezim boneka Arab dan Asia Muslim.
[1] http://m.arrahmah.com/read/2011/12/31/17129-refleksi-akhir-tahun-2011-7-peristiwa-fenomena- penting-versi-arrahmah-com.html
[3] http://arrahmah.com/read/2011/06/06/13157-revolusi-islam-di-yaman-penegakan-khilafah-pembebasan-al-aqsha.html#
[4] http://islamwillneverdie.blogspot.com/2011_08_21_archive.html
[5] http://m.arrahmah.com/read/2011/12/31/17129-refleksi-akhir-tahun-2011-7-peristiwa-fenomena- penting-versi-arrahmah-com.html
[6] http://m.arrahmah.com/read/2011/12/31/17129-refleksi-akhir-tahun-2011-7-peristiwa-fenomena- penting-versi-arrahmah-com.html
[7] penulis-bulukumba.blogspot.com/2011/08/revolusi-islam-di-yaman-penegakan_09.html
[9] penulis-bulukumba.blogspot.com/2011/08/revolusi-islam-di-yaman-penegakan_09.html
[10] http://arrahmah.com/read/2011/06/06/13157-revolusi-islam-di-yaman-penegakan-khilafah-pembebasan-al-aqsha.html#
Klik Dibawah Ini Untuk Menambah Wawasan Anda
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!
إرسال تعليق