PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM
DI JERMAN
Bangsa Jerman merupakan bangsa asli Jerman yang secara genetik dan budaya merupakan
kelompok budaya, kewarganegaraan dan
menggunakan bahasa Jerman sebagai
penutur. Bangsa ini terutama menghuni negara-negara Jerman, Swiss, Liechtenstein, Austria, dan Luxemburg. Jumlah
penduduk bangsa ini ialah 160 juta jiwa, 80 juta
jiwa umumnya menghuni Jerman.[1]
Karena
letaknya yang berada di tengah-tengah Eropa dan sejarah panjangnya sebagai suku-suku yang berbeda sebelum akhirnya bersatu, Jerman
memiliki banyak nama sebutan. Diantaranya : German, Germany, Germania,
Allemania, Saksa Deutsch dan Niemcy.
Jerman terletak di Eropa bagian tengah dan
berbatasan langsung dengan sembilan negara. Disebelah barat berbatasan dengan Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Perancis.
Disebelah selatan berbatasan dengan Swiss dan Austria.
Disebelah timur berbatasan dengan Ceko dan Polandia. Dan
disebelah utara berbatasan dengan Denmark.
Wilayahnya pernah pula terpecah secara politik sejak tanggal 7 Oktober 1949 sampai tanggal 3 Oktober 1990, sehingga bagian timur negara ini dikuasai
oleh rezim komunis dan
bernama Republik Demokratik
Jerman (Jerman Timur, atau Deutsche Demokratische
Republik disingkat DDR).
Secara umum, topografi Jerman adalah dataran
rendah di utara dan wilayah berbukit-bukit di bagian selatan. Sungai-sungai yang
mengalir cukup besar sehingga beberapa dapat dilayari oleh kapal berukuran
sedang hingga jauh ke hulu, seperti Sungai Rhein, Sungai Elbe, Sungai Donau, Sungai Weser, dan Sungai Main.
Sebelumnya datangnya Islam, warga Jerman sudah
dapat dikatakan kaum intelek. Kebanyakan orang memiliki pendidikan yang baik,
taraf hidup yang tinggi dan ruang gerak yang cukup luas untuk mengatur
kehidupan secara individual. Sejak reunifikasi, Jerman merupakan negara yang
paling padat penduduknya di Uni Eropa. Sekitar 82 juta orang tinggal di wilayah
Jerman, hampir seperlima di antaranya di bagian timur, di wilayah bekas Jerman
Timur.[2] Namun, dampak pembelahan
Jerman di bidang kemasyarakatan belum diatasi sepenuhnya dua puluh tahun
setelah terjadinya reunifikasi tersebut. Dalam rangka globalisasi, Jerman ke arah masyarakat imigrasi modern dengan
kemajemukan budaya yang terus meningkat.
Jerman adalah tempat kelahiran reformasi yang
dimulai oleh Martin Luther pada awal
abad ke-16. Protestan
(terutama di utara dan timur) terdiri dari 33% populasi dan Katolik
(terutama di selatan dan barat) juga 33%. Keseluruhan terdapat sekitar 55 juta
orang beragama Kristen.[3]
Dan juga sekitar 30% dari populasi Jerman
mengakui tidak memiliki agama. Di Timur angka ini dapat lebih tinggi. Selain
itu ada beberapa ratus ribu pemeluk Ortodoks. Di
wilayah bekas Jerman Timur, kehidupan keagamaan kurang berkembang dibandingkan
dengan di eks-Jerman Barat akibat rezim komunis yang memerintah sebelumnya
kurang memberi perhatian pada kehidupan keagamaan.
Masuknya
Agama Islam di Jerman
Sebenarnya Islam sudah dikenal oleh bangsa Jerman sejak
zaman pendudukan Kekhalifahan Islam di Spanyol. Pada saat itulah kekuasaan dan
kemajuan dunia Islam disegani oleh bangsa- bangsa Eropa. Andalusia dijadikan pusat
pengembangan ilmu pengetahuan dibawah Kekhalifahan Islam. Eropa mulai memasuki
abad pertengahan, mereka menyebutnya sebagai zaman kegelapan atau The Dark Age.
Pada zaman perang salib, peperangan terjadi antara kaum muslim dengan bangsa
Eropa, terutama Perancis, Jerman dan Inggris. Setelah perang salib berakhir,
toleransi antar agama dan kebudayaan pun berlangsung. Di saat itulah bangsa
Eropa termasuk Jerman mulai mengenal lebih jauh tentang Islam. Sastrawan nomor
satu di Jerman, Wolfgang von Goethe, adalah seorang pengagum Muhammad saw.[4]
Hubungan antara Jerman dan Islam terus berlanjut. Pada tahun 1739, raja Friedrich Wilhelm I
mendirikan sebuah masjid di kota Potsdam untuk tentaranya yang beragama Islam, mereka disebut dengan nama pasukan
Muhammadaner. Mereka juga diberikan jaminan kebebasan beribadah. Pada Februari 1807 pasukan Muhammadaner membantu raja
Wilhelm memerangi Napoleon dari Perancis. Bersama pasukan Jerman lainnya,
mereka pun memerangi Rusia dan Polandia. Pada satu resimen bernama Towarczy,
1220 tentara beragama Islam dan 1320 tentara lainnya beragama kristen. Pada
zaman itu, kaum muslim di Jerman selain menjadi tentara, mereka juga banyak
yang menjadi pedagang, diplomat, ilmuwan, dan penulis. Pada saat Perang Dunia
Pertama, Jerman kembali bersekutu dengan tentara muslim dari Kekhalifahan
Turki. Hal ini membuat komunitas muslim di Jerman bertambah banyak dan makin
menguatkan eksistensinya. Lembaga Muslim Jerman sudah berdiri pada tahun 1930.
Antara 1933 dan 1945, tercatat lebih dari tiga ribu warga Jerman beragama
Islam, dan tiga ratus di antaranya berdarah etnis Jerman. Sayangnya, pada saat
kepemimpinan Hitler dan perang dunia kedua, umat Islam terpecah-pecah. Kebebasan beribadah
terancam. Sebagian umat Islam
pergi melarikan diri ke negara Balkan.
Setelah perang dunia kedua berakhir dengan kekalahan besar yang didapatkan
Jerman, hubungan antara Jerman dan umat Islam
kembali terjalin. Keberadaan Islam di Jerman meningkat pada tahun 1960-an.
Akibat perang dunia, negara Jerman hancur berantakan. Jerman membutuhkan banyak
tenaga kerja. Para pekerja berdatangan dari Italia, Turki dan Eropa Timur untuk
membangun Jerman kembali. Setelah kontrak kerja mereka selesai, para pekerja
ini menolak untuk pulang ke negara mereka, bahkan mereka mendatangkan
keluarga-keluarganya untuk tinggal menetap di Jerman. Berlin menjadi kota
dengan jumlah komunitas Turki terbesar setelah Istanbul.
Meski
Islam dan umatnya kerap dilecehkan dan mendapat teror di berbgai tempat, namun
cahaya kebenaran tidak pernah redup. Di Jerman, sebuah sensus menyebutkan bahwa
Islam menyebar pesat.
Sebuah
kajian mengenai kehidupan Muslim di Jerman menunjukkan fenomena pindah agama di
kalangan masyakarat kelas menengah Jerman yang angkanya cukup mencengangkan. Walaupun media “rajin” memberitakan tentang terorisme
yang dikaitkan dengan Islam, kekerasan dalam rumah tangga Muslim, dan bom bunuh
diri. Islam masuk akal dan memiliki arahan yang
jelas. Fakta bahwa para muallaf datang dari kalangan
berpendidikan dan intelektual seperti dokter Kai Lühr dan pengacara Nils von
Bergner menyatakan Islam adalah agama yang dapat diterima akal. Lain halnya dengan Nils von Bergner,[5]
satu dari lebih dari 350 warga Hamburg yang masuk Islam di tahun 2005. Dia
punya cerita lain tentang perjalanannya menuju Islam. Ia mengaku sebagai orang yang senantiasa mengimani
Tuhan, dan beribadah kepadaNya.[6]
“Namun di satu sisi saya tidak merasa bahagia, saya selalu memiliki perasaan
bahwa saya membalas kebaikan Tuhan terlalu sedikit,” katanya saat mengisahkan
masa lalu perjalanannya menuju Islam. “Dan itulah alasan kenapa saya pernah bertutur,
bahwa jika sudah memeluk Islam, saya benar-benar ingin lima kali sehari
mengingat dan memanjatkan doa dan mendapatkan kesempatan untuk berterimakasih
kepada Tuhan.”
Jerman ternyata memiliki lebih banyak penduduk Muslim
daripada yang diperkirakan sebelumnya dengan hampir separuh dari mereka
memiliki kewarganegaraan Jerman sehingga dapat ikut memberikan suara dalam
pemilu. Muslim
di Jerman adalah minoritas terbesar di negara tersebut dan terbesar kedua di
Eropa setelah Perancis. Meskipun mereka telah berimigrasi ke Jerman sejak
1960an. Muslim Jerman terus menderita berbagai problem
sosial, seperti pengangguran, kurangnya pendidikan dan perwakilan politik.
Mayoritas umat Muslim Jerman taat sekali dalam menjalankan ajaran agamanya
namun mereka menghadapi sejumlah penghalang dalam integrasi sosial akibat
adanya aturan-aturan seperti pemisahan laki-laki dan perempuan serta akomodasi
religius di sekolah. Meskipun lebih dari separuh Muslim yang disurvei adalah
anggota sejumlah organisasi, seperti klub olahraga atau perkumpulan orangtua,
bukanlah sebuah indikasi yang cukup kuat akan adanya integrasi sosial ketika
banyak Muslim yang menjadikan sekolah-sekolah umum di Jerman sebagai
kekhawatiran utama mereka. Kurangnya akomodasi keagamaan di kelas-kelas agama dan
digabungnya siswa laki-laki dan perempuan dalam satu kelas adalah dua dari
sejumlah isu utama yang dihadapi generasi muda Muslim di Jerman. Menyerukan lebih banyak kesetaraan hukum bagi
Muslim Jerman dan penguasaan bahasa Jerman sebagai faktor-faktor utama penjamin
integrasi kaum agama minoritas. Muslim harus memiliki hak-hak yang sama karena
negara kita menjamin kebebasan beragama dan hal itu tidak terbatas pada satu
sudut pandang dunia bahwa umat Muslim harus menerima konstitusi
demokratis "tanpa syarat".
Klik Dibawah Ini Untuk Menambah Wawasan Anda
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!
إرسال تعليق