SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN TURKI UTSMANI

الأحد، 3 مارس، 20130 komentar



SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM PADA ZAMAN
TURKI UTSMANI
Kerajaan Turki Otsmani didirikan oleh Bangsa Turki dan kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara negeri Cina dalam masa waktu sekitar tiga abad, mereka pindah keTurkistan, Persia dan Irak[1]. Mereka masuk Islam sekitar abad ke-9 atau ke-10 di bawah pimpinan Ortoghol. Mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin, Sultan Saljuk yang kebetulan berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin memperoleh kemenangan. atas jasa baik mereka itu, Alaiudin menghadiahkan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium[2]. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukut sebagai Ibu kota.[3]

Orthogol meninggal dunia pada tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya Utsman.Orthogol inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Utsmani.

Sebelum meninggal, Utsman menunjuk (untuk menggantikan posisinya) yang lebih muda dari pada kedua anaknya, Orkhan yang berusia 42 tahun, yang lebih dididik seorang prajurit dibawah pengawasan ayahnya, dan telah menunjukan kemampuannya didalam banyak peperangan, terutama didalam penaklukan Brusa.

Kerajaan Utsmani sangat gencar melakukan ekspansi guna meluaskan kekuasaannya, sehingga pada masa Orkhan sebagian dari wilayah Eropa telah ditundukan. Kerajaan ini telah mencapai gemilang bermula sejak awal abad ke-16 sewaktu Salim mengalahkan kekuatan Syafawi dan meluaskan wilayah keselatan sampai Mesir dan Hijaz. Kawasan ini memiliki arti penting dalam kehidupan keagamaan umat Islam secara umum.
Wilayah kekuasaan Utsmani sejak abad ke-16 sangatlah luas, membentang dari BudepestYaman, dibagian selatan dan dari Basrah dibagian timur hingga ke Aljazair dibagian Barat itu, dibagi dalam beberapa provinsi yang masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur atau pasha.

Sampai abad ke-17, Turki Utsmani menikmati masa keemasan. Kekuatan militer Utsmani yang sangat tangguh menunjukan stabilitas kekuasaan. Kejayaan Utsmani mulai kelihatan pudar setelah sultan Sulaiman meninggal dunia, yang mengakibatkan terjadinya perebutan kekuasaan antara putra-putranya.

Pada awal abad ke-18, Turki Utsmani berusaha mengembalikan kejayaan dengan melakukan reformasi yang sangat gencar. Bahkan Sultan Salim III (w. 1807) membuka sejumlah kedutaan Utsmani di Eropa. Kemudian Mahmud II (w. 1839) memperkenalkan berbagai lembaga pembaharuan yang banyak diilhami dari Barat, termasuk pendidikan, militer, ekonomi dan hukum. Periode ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai periode “Reorganisasi”. Berbagai usaha pembaharuan terus dilakukan oleh orang-orang Turki, baik dari kalangan ulama’, kaum muda, cendekiawan maupun birokrat hingga abad ke-20.

Kerajaan Utsmani yang menjadi simbol Islam akhirnya hilang dari peredaran dunia dengan dihapusnya gelar khalifah tersebut. Dibawah kekuasaan Musthafalah pengaruh kekuasaan sultan berakhir ditahun 1922, dan segera setelah itu khalifah sebagai institusi agamapun dihapus sehingga Musthafa sebagai pemimpin besar menjadi presiden pertama dari republik Turki baru. Dengan demikian berakhirlah kehidupan panjang dan seluruh kebesaran seluruh pemerintahan baru.

Pendidikan Pada Masa Turki Utsmani

Setelah mesir jatuh dibawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, lalu Sultan Salim memerintahkan, supaya kitab-kitab diperpustakaan dan barang-barang yang berharga di Mesir dipindahkan ke Istambul. Anak-anak Sultan Mamluk, ulama’-ulama’, pembesar-pembesar yang berpengaruh di Mesir, semuanya dibuang ke Istambul, setelah mengundurkan diri sebagai khalifah dan menyerahkan pangkat khalifah itu kepada Sultan Turki.

Dengan demikian Sultan Turki memegang dua kekuasaan: kekuasaan sebagai sultan dalam urusan duniawi dan kekuasaan sebagai Khalifah dalam urusan agama.

Dengan berpindahnya ulama’-ulama’ dan kitab-kitab perpustakaan dari Mesir ke Istanbul, maka Mesir menjadi mundur dalam ilmu pengetahuan dan pusat pendidikan berpindah ke Istambul, tempat kedudukan Sultan dan Khalifah. Dan Istambullah yang menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan saat itu. 
Selain itu Sultan Salim mengumpulkan kepala-kepala perusahaan yang termashur di Mesir berjumlah kurang lebih 1000 orang banyaknya. Semua mereka dipindahkan ke Istambul,Mesir terpaksa ditutup. Itulah salah satu sebab mundurnya perusahaan di Mesir pada masa Utsmaniyah Turki.
Setelah Sultan Salim wafat, lalu digantikan oleh anaknya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (926-974 H = 1520-1566 M). Pada masa Sultan Sulaiman itu kerajaan Utsmaniyah sampai kepuncak kebesaran dan kemajuan yang gilang gemilang dalam sejarahnya. Laut putih tengah, laut hitam, dan laut merah semua dalam kekuasaannya. Luas negaranya dari Makkah ke Budapes dan dari Baghdad ke Aljazair. Tetapi sesudah wafat Sultan Sulaiman kerajaan Utsmaniyah mulai mundur sedikit demi sedikit.
Pada masa Utsmaniyah Tuki pendidikan dan pengajaran mengalami kemunduran, terutama diwilayah-wilayah, seperti Mesir, Baghdad dan lain-lain. Yang mula-mula mendirikan madrasah pada masa Utsmaniyah Tuki ialah Sultan Orkhan (wafat tahun 761 H = 1359 M.). kemudian diikuti oleh Sultan-Sultan keluarga Utsmaniyah dengan mendirikan madrasah-madrasah, yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan-sultan pada masa Utsmaniyah banyak mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah terutama di Istambul dan Mesir. Tetapi tingkat pendidikan itu tidak mengalami perbaikan dan kemajuan sedikitpun. Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang tidak sedikit bilangannya. Tiap-tiap orang bebas membaca dan mempelajari isi kitab itu. Bahkan banyak pula ulama, guru-guru, ahli sejarah dan ahli syair pada masa itu. Tetapi mereka-mereka itu hanya mempelajari kaidah-kaidah ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, serta sedikit ilmu berhitung utuk membagi harta warisan dan ilmu miqat untuk mengetahui waktu sembahyang. Mereka tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiyah di Eropa dan tidak mau pula mengikuti jejak zaman kemajuan Islam pada masa Harun Ar-Rasyid dan masa Al-Makmun, yaitu masa keemasan dalam sejarah Islam. Demikianlah keadaan pendidikan dan pengajaran pada masa Utsmaniyah Turki, sampai jatuhnya sultan atau khalifah yang terakhir tahun 1924 M.[4]

Sistem pengajaran yang dikebangkan pada Turki Utsmani adalah menghafal matan-matan meskipun murid-murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sultan, dan lain-lain. Murid-murid setelah menghafal matan-matan itu barulah mempelajari syarahnya. Karena pelajaran itu bertambah berat dan bertambah sulit untuk dihafalkannya. Sistem pengajaran diwilayah ini masih digunakan sampai sekarang. Pada masa pergerakan yang terakhir, masa pembaharuan pendidikan Islam di Mesir dan Syiria (tahun 1805 M) telah mulai diadakan perubahan-perubahan di sekolah-sekolah (madrasah) sedangkan di Masjid masih mengikuti sistem yang lama.


Meskipun pada masa Turki Utsmani pendidikan Islam kurang mendapat perhatian[5] yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau ulama’-ulama’ternama. Walaupun jumlah ulama’ pada masa itu tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak keemasan Islam.[6]

Sistem Pengajaran di Turki
Sistem pengajaran pada masa Turki seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu dengan cara menghafal matan-matan, seperti menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sulam dan lain-lain.[7]

Adapun tingkat-tingkat pengajaran di Turki adalah sebagai berikut:
1.      Tingkat Rendah (SR) 5 tahun
2.      Tingkat Menengah (SMP) 3 tahun
3.      Tingkat Menengah Atas (SMA) 3 tahun
4.      Tingkat tinggi (Universitas) 4 tahun
Dikelas IV dan V SR diajarkan ilmu agama jika mendapatkan izin dari orang tua murid. Begitu juga diajarkan agama dikelas III Sekolah Menengah (SMP) jika diminta oleh orang tua murid.

Selain itu ada juga sekolah Imam Chatib (sekolah agama) 7 tahun, 4 tahun pada tingkat menengah pertama dan tiga tahun pada tingkat menengah atas. Murid-murid yang diterima masuk sekolah imam chatib itu ialah murid-murid tamatan SR 5 tahun. Untuk melanjutkan dari sekolah Imam Chatib didirikan Institut Islam di Istambul pada tahun 1959, dan pengajarannya berlangsung selama 4 tahun.

Dasar-dasar pengajarannya adalah sebagai berikut:
1.    Tafsir
2.    Hadits
3.    Bahasa Arab
4.    Bahasa Turki
5.    Filsafat
6.    Sejarah Kebudayaan islam
7.    Ilmu Bumi
8.    Dan lain-lain[8]
Ulama’-Ulama’ yang Termashur Pada Masa Turki Utsmani
Ulama’-ulama’ yang termashur pada masa Utsmaniyah Turki diantaranya yaitu:
1.      Syeikh Hasan Ali Ahmad As-Syafi’i yang dimasyhurkan dengan Al-Madabighy,Jam’ul Jawami dan syarah Ajrumiyah (wafat tahun 1170 H = 1756M) pengarang Hasiyah.
2.      Ibnu Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 975H = 1567M) pengarang Tuhfah.
3.      Syamsuddin Ramali (wafat tahun 1004H = 1959H) pengarang Nihayah.
4.      Muhammad bin Abdur Razak, Murtadla Al-Husainy Az-Zubaidy, pengarang syarah Al-Qamus, bernama Tajul Urus (wafat tahun 1205H = 1790M).
5.      Abdur Rahman Al-Jabarity (wafat tahun 1240H = 1825M), pengarang kitab tarikh Mesir, bernama Ajaibul-Atsar Fit-Tarajim Wal-Akhbar.
6.      Syekh Hasan Al-Kafrawy As-Syafi’i Al-Azhary (wafat tahun 1202H = 1787M)pengarang kitab nahwu Syarah Al-Jurumiyah, barnama Kafrawy.
7.      Syeikh Sulaiman bin Muhamad bin Umar Al-Bijirmy As-Syafi’i (wafat tahun 1212H = 1806M), pengarang syarah-syarah dan hasyiah-hasyiah.
8.      Syeikh Hasan Al-Attar (wafat tahun 1250H = 1834M), ahli ilmu pasti dan ilmu kedokteran.
9.      Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Arfah Ad-Dusuqy Al-Maliki (wafat tahun 1230H = 1814M) ahli filsafat dan Imu falak serta ahli ilmu ukur.
10.  Nuruddin Ali Al-Buhairi (wafat tahun 944H = 1537M).
11.  Abdurrahman Al-Manawy (wafat tahun 950 H = 1543M).
12.  Syahabuddin Al-Quliyuby.
13.  Abdul-Baqybin Yusuf Az-Zarqany Al-Maliki(1099H = 1687M).
14.  Syeikh Abdulah Al-Syarqawy (Syeikh Al-Azhar) (wafat tahun 1227H= 1812M).
15.  Syekh Musthafa bin Ahmad As-Shawy (wafat tahun 1216H = 1801 M).
16.  Syeikh Musthafa Ad-Damanhury As-Syafi’I (wafat tahun 1216H = 1801 M).


[1] Syamsul munir amin, sejarah peradaban islam, jakarta: amzah, 2009, hlm. 194.
[2]Abuddin nata, sejarah pendidikan islam,jakarta: kencana, 2011, hlm. 206.
[3]Syamsul munir amin, sejarah peradaban islam, op.cit, hlm. 195.
[4]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1989),cet ke.5, h. 164.
[5]Abuddin nata, op cit, hlm. 210.
[6]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Op.cit, h. 171
[7]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992),cet ke.7, h. 168

[8]Mahmud Yunus, Perbandingan Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat, (Jakarta: C.v. Al-Hidayah, 1968), h. 124-125


Klik Dibawah Ini Untuk Menambah Wawasan Anda
Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!
Share this article :

إرسال تعليق

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ilmu ngawor tepak - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger